I always Like to look on the Optimistic side of life, but I'm Realistic enough to know that life's a Complex Matter

Selasa, 28 Mei 2013

Example of Memo #Komunikasi Bisnis#


To        : Stephanie Revi Elvia
From    : Yoana Yesinatali
Date     : May 28th, 2013
Subject : Youth Meeting

Our youth community will hold a meeting to discuss about one year youth innovation program. I hope that you can attend the meeting and invite our whole community members. I will call you soon to set off any needed things that must be prepared on time. Thank you.

Yours Faithfully,
       yoanayesi
Yoana Yesinatali
   Head of YC

Example of Inquiry Letter #Komunikasi Bisnis#


Harapan Indah City
West Java, Indonesia
P.O. Box 17131
May 28th, 2013
Mr. James Read
Harvard University
1350 Massachusetts Ave
Cambridge, MA 02138
United States

I am a third grade student of English Department at Gunadarma University. I recently attended the international seminar about “The Influence of English Culture in Indonesia” and enjoyed your lecture about the comparison between English and Indonesian culture.

As a student of English Department, I think it is such a good way to learn more about English culture that I particularly interested about. Of course without decrease the curiosity about my Indonesian culture itself.

Would you mind sending me your seminar materials? I would be really pleased that your materials will be very useful for me doing any analysis assignment about English and Indonesian culture.

Thank you for your time. I look forward to hearing from you soon.

Yours Sincerely,


yoanayesinatali


Yoana Yesinatali

Senin, 08 April 2013

Pantai Baron - Yogyakarta #Kepariwisataan 2#

Jika berbicara mengenai tempat wisata, sangat banyak tempat - tempat wisata yang pasti akan terlintas di pikiran kita. Wisata alam seperti pegunungan, pantai, air terjun atau sumber – sumber air panas, bahkan taman bermain pun juga termasuk dalam daftar tempat – tempat wisata yang selalu mengundang banyak orang untuk berkunjung kesana dan menikmati suasana alam yang nyaman dan mampu menyegarkan pikiran – pikiran kita dari berbagai kepenatan aktivitas sehari - hari.
Suasana senja di Pantai Baron

Kali ini saya akan membahas tentang Pantai. Lagi – lagi di kota Yogyakarta, begitu banyak lokasi – lokasi wisata yang terkenal dan banyak dikunjungi wisatawan. Salah satu pantai indah yang ada di Yogyakarta adalah Pantai Baron. Pantai ini terletak di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, sekitar 23km arah selatan kota Wonosari, merupakan pantai pertama yang ditemui dari rangkaian kawasan Pantai Baron, Kukup, Sepanjang, Drini, Krakal dan Sundak.

Di pantai ini juga terdapat muara sungai bawah tanah yang bisa digunakan untuk pemandian setelah bermain di laut. Selain itu wisatawan juga dapat menikmati aneka ikan laut segar maupun siap saji, dengan harga terjangkau, termasuk menu khas pantai Baron yaitu Sop Kakap. Pada sisi sebelah timur dapat dicapai melalui jalan setapak yang melingkar terdapat bukit kapur wisatawan bisa beristirahat di gardu pandang, sambil menghirup udara pantai yang menyegarkan. Kurang lebih 10 km kea rah barat dari Pantai Baron terdapat Pantai Parang Racuk dengan bukitnya yang menjulang dan terjal, dengan leluasa dari atas bukit.

Pada setiap bulan Syuro tahun Jawa masyarakat nelayan setempat menyelenggarakan Upacara Sedekah Laut yang merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas panenan ikan yang melimpah dan keselamatan mencari ikan di laut. Betapa nyaman suasana di tempat ini. Keramahan masyarakat sekitar dan keadaan pantai yang cukup bersih membuat kita ingin lebih lama menghabiskan waktu bersantai disana, menikmati keindahan alam dan hembusan angin yang lembut. Semoga kelestarian alam di kota Yogyakarta dan sekitarnya, juga di Negeri Indonesia dapat terus terpelihara dengan baik sampai kapanpun. Amin J
Karang - karang di sisi Pantai Baron




Malioboro Street - Yogyakarta #Kepariwisataan 2#


There is proudness when we heard that Indonesia is the one of many countries in the world which has many things that able to attract people to come and visit. We have many islands, ethnics, beliefs, and more. For this time I will talk about Yogyakarta, especially Malioboro. Malioboro is the name of a street in Yogyakarta, Central Java – Indonesia. Located in the heart of Yogyakarta City, in the line between Yogyakarta Kraton and Mount Merapi, Malioboro Street is the most famous place for every visitor, 
especially tourists, both domestic and foreign travelers.

Every time I visit Yogyakarta, I never miss an opportunity to go to the Malioboro Street, because I could get a lot of things there. Many stores that sell souvenirs are lined along Malioboro street. Not only in stores only, many trader are also can’t lose the spirit in offering a variety of special souvenirs from Yogyakarta City, such as keychains, shirts, bags, sandals, clothes, etc. It also appears the local food vendors and many Yogyakarta special snacks offered along this road.


It is very nice and fun. Almost every night the way of Malioboro streets are filled with the crowds of visitors and traders, especially in weekend or holiday season. This typical situation would be always being a tourist attraction for each individual tourists who are visiting Yogyakarta, especially Malioboro Street :)

Senin, 03 Desember 2012

Kepariwisataan di Indonesia

Bila kita tiba-tiba ditanya : apa sesungguhnya kekuatan atau daya tarik pariwisata Indonesia yang membedakannya dengan negara lain, sehingga layak dijual ? Pada umumnya akan menjawab keindahan alamnya. Untuk yang jarang melakukan perjalanan wisata ke mancanegara maka jawaban tersebut mungkin benar karena memang tidak pernah melihat alam lain. Atau budayanya, tapi budaya yang mana Bali kah atau Jawa, Toraja, atau yang lainnya. Kembali pengelolaan peninggalan budaya masih belum ada apa-apanya dibandingkan dengan peninggalan budaya Yunani, Roma, Mesir, kemampuan kita masih tertinggal. Bahkan di kawasan ASEAN saja pengelolaan peninggalan budaya kita masih ketinggalan dibandingkan dengan Thailand atau Kamboja dengan Angkor Wat nya. Kesemuanya ini perlu dikemukakan agar tidak timbul arogansi yang sempit bahwa Indonesia adalah segalanya, terindah di dunia, cepat berpuas diri; sehingga dikiranya setiap warga dunia mendambakan untuk dapat berkunjung ke Indonesia dengan cara menabung atau cara lainnya. Sesungguhnya keindahan alam ataupun peninggalan budaya secara fisik tidak lebih dari seonggokan gunung atau candi ataupun benda/bangunan lainnya, ataupun pantai yang indah yang juga dimiliki oleh berbagai negara yang lokasinya berdekatan dengan lumbung turis internasional. Karena tanpa adanya komunitas disekitar monumen, gunung atau pantai maka obyek wisata tersebut tidak lebih dari benda mati, tidak ada roh kehidupan dan bahkan tidak berarti apa-apa bagi pengunjung. Oleh karena itu haruslah disadari bahwa kekuatan pariwisata Indonesia adalah terletak pada manusianya. Manusia yang hangat, ramah tamah, murah senyum dan gemar menolong tamunya, sehingga membuat “kangen” untuk kembali lagi. Gambaran ini adalah pada umumnya manusia Indonesia memang bercirikan demikian dan kita akui pula bahwa memang ada juga sekelompok kecil bangsa Indonesia yang mempunyai tingkah laku tidak seperti yang digambarkan, dan ini hanyalah ekses dari berbagai perubahan yang saat ini sedang berlangsung di Indonesia.


Sejak peristiwa 11 September 2001 pemerintah dan pelaku pariwisata sepakat untuk lebih fokus memasarkan Indonesia dengan prioritas ke negara jiran ( short-haul ) dan rejional ( medium haul ). Disamping 70% wisman Indonesia memang berasal dari segmen pasar ini, terdapat pula kecenderungan akan makin sedikit manusia yang berpergian terlalu jauh dari tempat tinggalnya hanya untuk berwisata. Terlalu banyak resiko terutama yang terkait dengan keamanan dan kenyamanan serta efisiensi karena pariwisata saat ini berhadapan dengan “ time poor – money rich people ” (punya harta tetapi miskin waktu). Oleh karena itulah berbagai upaya dilakukan dengan paket wisata yang menarik agar wisman di sekitar negara kita lebih tertarik berkunjung ke Indonesia dibandingkan ke negara lain. Pandangan ini lebih diyakini lagi setelah terjadinya tragedi Bali, Oktober 2002. Tanpa tragedi pun mengatasi permasalahan pariwisata sudah sangat sulit, apalagi ditambah dengan terjadinya tragedi ini, bahkan diikuti pula dengan tragedi Hotel Marriott (Agustus 2003). Lebih parah lagi setelah terjadinya berbagai tragedi yang sesungguhnya merupakan cobaan ini, kekompakan dan kebersamaan di kalangan pelaku pariwisata yang dirasakan sebelumnya sangat baik, telah terpecah belah karena berbagai ambisi dan manuver politik untuk dapat muncul menjadi pahlawan pariwisata Indonesia (mungkin supaya dikenang sejarah walaupun kesiangan dan tanpa prestasi yang jelas). Oleh karena itu diawal 2003 BP-Budpar, sebagai lembaga operasional saat itu memberikan gambaran bahwa tahun 2003 Indonesia akan mencapai angka terendah dibawah tahun 2002 (5 juta wisman), sebesar 4,5 juta sampai 4,8 juta wisman. Para wartawan menanyakan kok bisa lebih rendah dari 2002 saat dimana terjadi Bom Bali. Analoginya sama dengan penyakit yang datangnya tiba-tiba tetapi penyembuhannya memakan waktu dan bertahap. Disamping itu tahun 2002 dari bulan Januari sampai dengan 11 Oktober kondisi pariwisata Indonesia masih normal karena ketidak normalan hanya dialami dua setengah bulan terakhir saja; sedangkan di tahun 2003 ketidak normalan akan berlangsung satu tahun penuh bahkan akan merembet ke tahun 2004 (saat itu belum tahu kalau akan terjadi bom Mariott). Jadi faktor utamanya adalah jaminan keamanan , meskipun tidak ada satu pun negara di dunia yang menjamin bahwa wisman nya akan aman ketika tinggal di negaranya. Yang mereka perlukan adalah “ signal ” bahwa Indonesia bersungguh-sungguh menjaga keamanan. Sementara itu di tahun 2004 kita akan menyelenggarakan Pemilu masing-masing pada bulan April, Juli dan September. Apabila pemilihan presiden dapat dilakukan hanya satu kali yakni bulan Juli maka pebisnis yakin bahwa kondisi akan normal kembalidan diharapkan akan adanya peningkatan kunjungan ke Indonesia (bila kondisi keamanan mendukung. Namun bila pemilihan Presiden sampai diulang (bulan September) maka tampaknya akan membawa dampak negatif bagi pariwisata Indonesia karena pihak yang kalah kemungkinan akan berbuat keonaran, menginat jiwa sportivitas masih belum membudaya dikalangan politisi kita. Oleh karena itu agar tidak hanya termangu-mangu saja maka sebagai jalan keluarnya di tahun 2004 ini disarankan para pelaku pariwisata Indonesia lebih fokus ke pasar dalam negeri, menggarap wisatawan nusantara (wisnus) dengan sungguh-sungguh dan sebaik-baiknya sehingga minimal kondisi cash-flow perusahaan akan dapat tertolong. Dan sebaiknya tidak melakukan expansi ataupun investasi baru karena kondisi kestabilan politik kurang mendukung adanya investasi baru dibidang pariwisata. Atas dasar kondisi tersebut maka perkiraan jumlah wisman di tahun 2004 maksimal hanya akan meraih 4,5 juta wisman. Apabila dalam White Paper Menbudpar ditargetkan harus dapat setor atau menghasilkan USD 5 Milyar maka harus bekerja keras berusaha agar masa lama tinggal ( length of stay ) nya lebih panjang dari hanya sekedar 10 hari dengan berbagai peningkatan kualitas dan variasi atraksi yang menarik mereka untuk tinggal lebih lama lagi. Dan daerah yang sangat terpengaruh terutama adalah Bali, sedangkan pintu masuk Cengkareng dan Batam akan sedikit pengaruhnya karena kebanyakan pengunjung yang datang melalui pintu ini adalah untuk melakukan bisnis bukan berwisata dalam arti sesungguhnya, meskipun tetap akan mengalami penurunan pula. Disamping itu sebaiknya kita tidak terperangkap pada “kekinian” sehingga menghilangkan idealisme hanya dengan pragmatisme jangka pendek semata. Jawaban ex-patriate diawal pembahasan bahwa sektor pariwisata lah yang akan menggantikan primadona ekonomi Indonesia nantinya hendaknya kita jadikan pedoman dan mulai melihat kedepan paling tidak tahun 2010, sebagaimana Thailand yang telah mencanangkan target 30 juta wisman pada tahun 2010. yang tentunya didukung oleh persiapan yang matang dan mantap serta leadership yang kuat, bukannya yang lemah diikuti oleh manajemen yang amburadul. Inilah saatnya kembali bersatu karena tanpa persatuan sangat mustahil pariwisata Indonesia dapat berdiri sejajar dengan negara tetangga, Malaysia, Thailand dan Singapura.

Selain itu hendaklah disadari bahwa sektor pariwisata adalah penyedia kesempatan kerja yang sangat dominan yakni 10 % dari lapangan kerja di Indonesia dengan jumlah tenaga kerja langsung 7,3 juta dan yang tidak langsung 5 juta orang. Sehingga bila terjadi permasalahan yang menghambat kemajuan pariwisata pasti akan membawa dampak yang negatif terhadap ketersediaan lapangan kerja. Oleh karena itu berbagai strategi pun harus diarahkan ke sasaran penciptaan lapangan kerja atau paling tidak memelihara jumlah tenaga kerja yang ada sekarang. Kepariwisataan Indonesia merupakan penggerak perekonomian nasional yang potensial untuk memacu pertumbuhan perekonomian yang lebih tinggi di masa yang akan datang. Pada tahun 2008 kepariwisataan Indonesia berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar Rp. 153,25 trilyun atau 3,09% dari total PDB Indonesia (BPS, 2010). Pada tahun 2009, kontribusinya meningkat menjadi 3,25%. Pertumbuhan PDB pariwisata pun sejak tahun 2001 selalu menunjukkan angka pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan PDB nasional. Walaupun masih menunjukkan angka sementara, pada tahun 2009 pertumbuhan PDB pariwisata mencapai 8,18%, sedangkan PDB nasional hanya 4,37%. Pada tahun yang sama, devisa dari pariwisata meurpakan kontributor terbesar ketiga devisa negara, setelah minyak dan gas bumi serta minyak kelapa sawit. Peringkat ini menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat sejak tahun 2006 yang hanya menempati peringkat ke-6 dari 11 komoditi sumber devisa negara.

Namun menurut pendapat saya, pemerintah masih kurang memperhatikan kualitas dari kepariwisataan itu sendiri. Jika diperhatikan, masih banyak tempat – tempat wisata yang memiliki fasilitas kurang memadai. Yang saya maksud adalah mengenai kebersihan dan perawatan dari tempat wisata itu sendiri. Sebagai masyarakat yang memiliki kebanggan akan Negara Indonesia dan tentu saja potensi kepariwisataan Indonesia, tentu saja adalah kewajiban kita untuk memelihara tempat – tempat kunjungan wisata tersebut. Disamping itu peran pemerintah pun juga sangat diperlukan, karena semua fasilitas dan kegiatan pemeliharaan juga bergantung dari kebijakan setiap lembaga pariwisata itu sendiri. Akan lebih baik jika kita memulainya dari kesadaran diri masing – masing dahulu, selagi menanti kebijakan pemerintah Negara maupun daerah membuat kebijakan bagi perkembangan pemeliharaan tempat – tempat wisata tersebut. Ini semua selayaknya kita lakukan sebagai tanda syukur kita bagi banyaknya anugerah yang Tuhan berikan melalui keindahan – keindahan alam dan banyaknya sejarah di Indonesia.

Sumber – sumber :