I always Like to look on the Optimistic side of life, but I'm Realistic enough to know that life's a Complex Matter

Minggu, 30 September 2012

J U R N A L I S T I K


BAB 1
Pendahuluan
Latar Belakang
Menurut Ensiklopedi Indonesia, Jurnalistik adalah bidang profesi yang mengusahakan penyajian informasi tentang kejadian dan atau kehidupan sehari-hari (pada hakikatnya dalam bentuk penerangan, penafsiran dan pengkajian) secara berkala, dengan menggunakan sarana-sarana penerbitan yang ada.
Jurnalisme dapat dikatakan “coretan pertama dalam sejarah”. Meskipun berita seringkali ditulis dalam batas waktu terakhir, tetapi biasanya disunting sebelum diterbitkan. Jurnalis seringkali berinteraksi dengan sumber yang kadangkala melibatkan konfidensialitas. Banyak pemerintahan Barat menjamin kebebasan dalam pers. Aktivitas utama dalam jurnalisme adalah pelaporan kejadian dengan menyatakan siapa, apa, kapan, di mana, mengapa dan bagaimana (dalam bahasa Inggris dikenal dengan 5W+1H) dan juga menjelaskan kepentingan dan akibat dari kejadian atau trend. Jurnalisme meliputi beberapa media: koran, televisi, radio, majalah dan internet sebagai pendatang baru.

BAB II
Pembahasan
Sejarah Jurnalistik
 Awal mula lahirnya Jurnalistik dimulai sekitar 3000 tahun lalu. Terdapat konsep dasar jurnalistik yaitu, penyampaian berbagai pesan, berita dan informasi. konsep dasar tersebut berakar dari saat ketika itu Firaun, Amenhotep III, di Mesir mengirimkan ratusan pesan kepada para perwiranya yang tersebar di berbagai daerah provinsi untuk mengabarkan apa yang terjadi di pusat.
Catatan sejarah yang berkaitan dengan penerbitan media massa terpicu penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg.
Media massa di Indonesia tumbuh dan berkembang secara unik, dibandingkan dengan negara lain, terutama bila dibandingkan dengan lahir dan tumbuhnya media massa di negara-negara barat dan AS. Media cetak di Indonesia lahir pada masa penjajahan Belanda yaitu dengan terbitnya surat kabar Bataviase Nouvelles (1744). Koran ini tentu saja dijalankan oleh manajemen dan jurnalis Belanda. Kemudian lahirlah pers "pribumi", media cetak yang berkomunikasi dengan bahasa melayu atau bahasa daerah dan dipimpin oleh seorang pribumi. Masuk dalam kategori ini adalah warta berita (1901) yang selain berbahasa melayu juga dicetak dalam bahasa latin. Surat kabar lain yang lahir pada abad ke-19 meskipun telah dicetak dengan huruf latin dan berbahasa melayu, tetapi umumnya masih di pimpin oleh orang-orang Belanda. Koran yang dipimpin oleh kaum pribumi ini merupakan cikal bakal "pers perjuangan" yaitu media cetak berbahasa Melayu yang menyiratkan cita-cita kemerdekaan dari penjajahan asing dalam kebijakan redaksionalnya.
Istilah pers perjuangan kembali populer setelah 17 Agustus 1945, yaitu Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi kemudian pihak Belanda (mencoba) menjajah kembali bangsa Indonesia. Pada era 1945-1946, koran-koran yang membawakan suara bangsa Indonesia masih mendapat survive di tengah tekanan pihak Belanda. Wartawan Indonesia H. Rosiwan Anwar adalah contoh "sisa-sisa laskar panjang" yang mengalami sendiri masa-masa sulit itu.

Konsistensi pers cetak semakin terlihat pada perjalanan bangsa ini, mulai dari era demokrasi liberal (1950-1959), demokrasi terpimpin (1959-1965), demokrasi pancasila (1965-1998) dan kini, serta era reformasi (1998-sekarang).

Fungsi Pers
Ø Pers sebagai Media Informasi
            Media informasi merupakan bagian dari fungsi pers dari dimensi idealisme. Informasi yang disajikan pers merupakan berita-berita yang telah diseleksi dari berbagai berita yang masuk ke meja redaksi, dari berbagai sumber yang dikumpulkan oleh para reporter di lapangan. Menurut Pembinaan Idiil Pers, pers mengemban fungsi positif dalam mendukung mendukung kemajuan masyarakat, mempunyai tanggung jawab menyebarluaskan informasi tentang kemajuan dan keberhasilan pembangunan kepada masyarakat pembacanya. Dengan demikian, diharapkan para pembaca pers akan tergugah dalam kemajuan dan keberhasilan itu.
Ø Pers sebagai Media Pendidikan
            Dalam Pembinaan Idiil Pers disebutkan bahwa pers harus dapat membantu pembinaan swadaya, merangsang prakarsa sehingga pelaksanaan demokrasi Pancasila, peningkatan kehidupan spiritual dan kehidupan material benar-benar dapat terwujud. Untuk memberikan informasi yang mendidik itu, pers harus menyeimbangkan arus informasi, menyampaikan fakta di lapangan secara objektif dan selektif. Objektif artinya fakta disampaikan apa adanya tanpa dirubah sedikit pun oleh wartawan dan selektif maksudnya hanya berita yang layak dan pantas saja yang disampaikan. Ada hal-hal yang tidak layak diekspose ke masyarakat luas.
Ø Pers sebagai Media Entertainment
            Dalam UU No. 40 Tahun 1999 pasal 3 ayat 1disebutkan bahwa salah satu fungsi pers adalah sebagai hiburan. Hiburan yang diberikan pers semestinya tidak keluar dari koridor-koridor yang boleh dan tidak boleh dilampaui. Hiburan yang sifatnya mendidik atau netral jelas diperbolehkan tetapi yang melanggar nilai-nilai agama, moralitas, hak asasi seseorang, atau peraturan tidak diperbolehkan. Hiburan yang diberikan pers kepada masyarakat yang dapat mendatangkan dampak negatif, terutama apabila hiburan itu mengandung unsur-unsur terlarang seperti pornografi dan sebagainya seharusnya dihindari.
Ø Pers sebagai Media Kontrol Sosial
            Maksudnya pers sebagai alat kontrol sosial adalah pers memaparkan peristiwa yang buruk, keadaan yang tidak pada tempatnya dan yang menyalahi aturan, supaya peristiwa itu tidak terulang lagi dan kesadaran berbuat baik serta mentaati peraturan semakin tinggi. Makanya, pers sebagai alat kontrol sosial bisa disebut “penyampai berita buruk”.
Ø Pers sebagai Lembaga Ekonomi
            Beberapa pendapat mengatakan bahwa sebagian besar surat kabar dan majalah di Indonesia memperlakukan pembacanya sebagai pangsa pasar dan menjadikan berita sebagai komoditas untuk menarik pangsa pasar itu. Perlakuan ini menjadikan keuntungan materi sebagai tujuan akhir pers. Konsekuensinya, pers senantiasa berusaha menyajikan berita yang disenangi pembaca.

FUNGSI DAN PERANAN PERS DI INDONESIA
Berdasarkan ketentuan pasal 33 UU No. 40 tahun 1999 tentang pers, fungsi pers ialah sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial . Sementara Pasal 6 UU Pers menegaskan bahwa pers nasional melaksanakan peranan sebagai berikut:

~ Memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui, menegakkkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong terwujudnya supremasi hukum dan hak asasi manusia, serta menghormati kebhinekaan
~ Mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat, dan benar
~ Melakukan pengawasan, kritik, koreksi, dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum
~ Memperjuangkan keadilan dan kebenaran
Berdasarkan fungsi dan peranan pers yang demikian, lembaga pers sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi (the fourth estate) setelah lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif , serta pembentuk opini publik yang paling potensial dan efektif. Fungsi peranan pers itu baru dapat dijalankan secara optimal apabila terdapat jaminan kebebasan pers dari pemerintah.

Menurut tokoh pers, Jakob Oetama , kebebasan pers menjadi syarat mutlak agar pers secara optimal dapat melakukan pernannya. Sulit dibayangkan bagaimana peranan pers tersebut dapat dijalankan apabila tidak ada jaminan terhadap kebebasan pers.

Pemerintah orde baru di Indonesia sebagai rezim pemerintahan yang sangat membatasi kebebasan pers . Hal ini terlihat, dengan keluarnya Peraturna Menteri Penerangan No. 1 tahun 1984 tentang Surat Izin Usaha penerbitan Pers (SIUPP), yang dalam praktiknya ternyata menjadi senjata ampuh untuk mengontrol isi redaksional pers dan pembredelan.

Albert Camus, novelis terkenal dari Perancis pernah mengatakan bahwa pers bebas dapat baik dan dapat buruk , namun tanpa pers bebas yang ada hanya celaka. Oleh karena salah satu fungsinya ialah melakukan kontrol sosial itulah, pers melakukan kritik dan koreksi terhadap segal sesuatu yang menurutnya tidak beres dalam segala persoalan. Karena itu, ada anggapan bahwa pers lebih suka memberitakan hal-hal yang salah daripada yang benar. Pandangan seperti itu sesungguhnya melihat peran dan fungsi pers tidak secara komprehensif, melainkan parsial dan ketinggalan jaman.Karena kenyataannya, 
pers sekarang juga memberitakan keberhasilan seseorang, lembaga pemerintahan atau perusahaan yang meraih kesuksesan serta perjuangan mereka untuk tetap hidup di tengah berbagai kesulitan

BAB III
Kesimpulan
Jurnalistik adalah suatu kegiatan atau aktivitas yang menyajikan informasi untuk disampaikan kepada masyarakat. Jurnalistik biasanya disampaikan melalui media cetak seperti buku, surat kabar, majalah, tabloid, dan sebagainya; juga melalui media elektronik seperti iklan, film, atau berita di radio (audio), televisi, dan internet (audio visual).
            Sejarah jurnalistik dimulai sekitar 3000 tahun yang lalu oleh Firaun yang menyampaikan ratusan pesan kepada perwiranya yang tersebar di berbagai daerah bagian di Mesir. Kemudian, media massa mulai diterbitkan setelah Johannes Gutenberg  menemukan mesin cetak.
            Di Indonesia sendiri, media massa mulai lahir pada masa penjajahan Belanda dengan terbitnya surat kabar Bataviase Nouvelles pada tahun 1744. Kemudian sekitar abad ke 19, kaum pribumi mulai membuat media cetak dengan menggunakan bahasa Melayu (bahasa daerah Indonesia), koran yang dipimpin oleh kaum pribumi ini merupakan cikal bakal "pers perjuangan" yaitu media cetak berbahasa Melayu yang menyiratkan cita-cita kemerdekaan dari penjajahan asing dalam kebijakan redaksionalnya. Konsistensi pers cetak semakin terlihat pada perjalanan bangsa ini, mulai dari era demokrasi liberal (1950-1959), demokrasi terpimpin (1959-1965), demokrasi pancasila (1965-1998) dan kini, serta era reformasi (1998-sekarang).
            Pers merupakan badan yang membuat penerbitan media massa secara berkala. Fungsi Pers adalah sebagai media informasi yang menyeleksi berita-berita dari berbagai sumber yang dikumpulkan oleh para reporter di lapangan, lalu sebagai media pendidikan yang membantu pembinaan swadaya dan merangsang prakarsa masyarakat, sehingga pelaksanaan demokrasi Pancasila, peningkatan kehidupan spiritual dan material benar-benar dapat terwujud. Kemudian pers juga berfungsi sebagai media entertaimen, memberikan hiburan yang sifatnya mendidik atau netral. Namun hiburan yang melanggar nilai-nilai agama, moralitas, dan HAM atau peraturan, tidak diperbolehkan.
            Fungsi pers yang lain adalah sebagai media kontrol sosial yang memaparkan peristiwa buruk yang menyalahi aturan, agar peristiwa tersebut tidak terulang lagi dan kesadaran masyarakat untuk berbuat baik serta menaati peraturan semakin tinggi. Lalu yang terakhir, pers juga berfungsi sebagai lembaga ekonomi yang menjadikan keuntungan materi sebagai tujuan akhir pers.
            Menurut tokoh pers, Jakob Oetama, kebebasan pers menjadi syarat mutlak agar pers secara optimal dapat melalukan peranannya. Sulit dibayangkan bagaimana peranan pers tersebut dapat dijalankan apabila tidak ada jaminan terhadap kebebasan pers.

DAFTAR PUSTAKA
http://reporter.lpds.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=82:menyikapi-persoalan-tayangan-infotainmen&catid=1:etika-media&Itemid=6

JURNALISTIK I
Dosen : Dr. Nuriyati Samatan

Disusun oleh :
Siti Herdiani Poetri
Siti Syarah Fitriah
Yoana Yesinatali
3SA04
Sastra Inggris – Universitas Gunadarma

Selasa, 24 April 2012

Franchise (Waralaba)



Definition
What is a franchise? A franchise is a right granted to an individual or group to market a company's goods or services within a certain territory or location. Some examples of today's popular franchises are McDonald's, Subway, Domino's Pizza, and the UPS Store.

There are many different types of franchises. Many people associate only fast food businesses with franchising. In fact, there are over 120 different types of franchise businesses available today, including automotive, cleaning & maintenance, health & fitness, financial services, and pet-related franchises, just to name a few.

Characteristics of Successful Franchisees
Thinking about starting your own franchise business? What are the personal and professional qualities that allow individuals to successfully operate a franchise? You may have previous business experience and an understanding of the basics of franchising, but what attributes are necessary for success as a franchisee? Before you jump into a career as a franchisee, consider the seven characteristics of successful franchisees:

1. Being accountable
In order to manage a franchise business, you need to adapt to changing situations – like keeping your business flexible and your customers happy. Your team will rely on you to make responsible business decisions and diligently respond to enquiries quickly and efficiently. Take responsibility for operating your franchise business, and follow through on your business goals.
 
2. Being a leader
Don’t be afraid to get your hands dirty. As a franchise business owner, you can bring energy, innovative thinking, and a sense of commitment to your team. Leadership qualities will help you build better relationships with your franchisor, employees, and other franchisees. Like all businesses, working as a franchisee will require you to work closely with a large group of people, and to lead them in the right direction.
 
3. Being a hard worker
Do you have a can-do attitude and take pride in doing quality work? With dedication and focus, you can weather the storms that will eventually arise. You will be successful if you are willing to put in the hours it takes to get the job done right.
 
4. Being willing to learn
At the start, you may not be an expert in your franchise business.  That’s OK! Showing interest and a willingness to learn will work to your benefit – and it will make your franchisor more willing to provide support and training.

5. Being a people person
In a franchise business, you will work with many people on a daily basis. Maintaining open lines of communication with customers and employees is an important part of being successful in franchising. Forming strong relationships with your franchisor and other business people in the community contributes to the growth and success of your business.

6. Being aware of sound financial management
When you start a franchise, you may invest your own capital, and that investment must be protected. Financial management skills are necessary to properly monitor and manage income and expenses. They are also critical as your business begins to grow and diversify.
 
7. Being a team player
It’s not enough to say you’re part of a team. Being a team player in a franchise environment involves adaptability, drive, and resilience. Operating your own franchise business doesn’t mean you are “going solo”. You will be operating your business within your franchisor’s system and will need to cooperate with stakeholders to make your business runs smoothly.

Specifications of Franchise

Here are a few examples that might be in the Specifications:

For a restaurant: The size, type, and brand of refrigerators, freezers, cookers, drink dispensers, etc. The physical requirements for the restaurant layout, kitchen, and front entry. The décor and interior and exterior signage requirements. The seating requirements, including number, size, arrangement, color, and source.

For a retail store: The size, type, and number of displays and counters. The inventory assortment and depth requirements. The color, décor scheme, signage (interior and exterior), etc. The method of pricing merchandise and use of promotional signs on displays.

For a service or trade type business: The type of vehicle required, advertising on the vehicle, the type and quantity of tools necessary, the clothing worn by employees, the work orders, storage requirements, materials used, etc.

For a home office based business: The type of telephone access, number of lines, type of Internet access (high speed or dial up) type of fax machine and phone connection (dedicated or roll-over line), the type of computer, computer software (may be previously specified in the FDD), the number of desks, and other office equipment. Also, whether you require the office to be in a separate room and any restrictions on employees working at the home.

Advantages and disadvantages of franchising

Buying a franchise can be a quick way to set up your own business without starting from scratch. But there are also a number of drawbacks.
Advantages
·         Your business is based on a proven idea. You can check how successful other franchises are before committing yourself.
·         You can use a recognised brand name and trade marks. You benefit from any advertising or promotion by the owner of the franchise - the 'franchisor'.
·         The franchisor gives you support - usually including training, help setting up the business, a manual telling you how to run the business and ongoing advice.
·         You usually have exclusive rights in your territory. The franchisor won't sell any other franchises in the same territory.
·         Financing the business may be easier. Banks are sometimes more likely to lend money to buy a franchise with a good reputation.
·         You can benefit from communicating and sharing ideas with, and receiving support from, other franchisees in the network.
·         Relationships with suppliers have already been established.
Disadvantages
·         Costs may be higher than you expect. As well as the initial costs of buying the franchise, you pay continuing management service fees and you may have to agree to buy products from the franchisor.
·         The franchise agreement usually includes restrictionson how you can run the business. You might not be able to make changes to suit your local market.
·         The franchisor might go out of business.
·         Other franchisees could give the brand a bad reputation, so the recruitment process needs to be thorough
·         You may find it difficult to sell your franchise - you can only sell it to someone approved by the franchisor.
·         All profits (a percentage of sales) are usually shared with the franchisor.

Example of Franchise

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgkl5eyqo4HyKPLivCiKY6bY7y6N7YzWtaS2WWeTtyu2QlH3sYbSvFJhb8dmvghSwLGlvtaZ5ybu4AcH1OjOgkHpkKJUbTRqjLDgZRBkrqSdRwjf-UM26-8vbweE6UTd0s24v-qEKRQLt6V/s1600/bakmigm.gif
Informasi restaurant bakmi GM. Bakmi GM Gajah Mada merupakan salah satu restaurant mie/bakmi populer di Indonesia. Saat ini mereka TIDAK menawarkan peluang franchise/waralaba. Bakmi GM telah memiliki sejumlah cabang di beberapa kota di Indonesia. Jika Anda tertarik ingin mencicipi rasa bakmi GM silakan berkunjung ke salah satu cabang bakmi GM.


Cabang Bakmi GM
Kota, Jakarta
Jalan Gajah Mada No. 92
Kota, Jakarta Pusat
Telp : 021 – 6334689

Kebayoran Baru, Jakarta
Jalan Melawai Raya No. 3
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Telp : 021 – 7398038

Serta beberapa cabang lagi yang berada di pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota di Indonesia seperti Mal Metropolitan Bekasi, Mal Pondok Indah Jakarta Selatan, Mal Puri Indah Jakarta Barat, Mal Kelapa Gading Jakarta Utara, Mangga Dua, dan Mal Senayan City


Sources :

Kamis, 29 Maret 2012

Usaha Kecil Menengah

Small and medium enterprises or small and medium-sized enterprises (SMEs; also small and medium-sized businessesSMBs, and variations there of) are companies whose headcount or turnover falls below certain limits.
In most economies, smaller enterprises are much greater in number than large companies. SMEs are often said to be responsible for driving innovation and competition in many economic sectors (wikipedia.org)


There is small enterprise which run about food and drinks, we usually call it Canteen.
Located at an English course area in Harapan Indah, Bekasi, with 3 million rupiahs for fund, Mrs. Djoko started her business on August 2011.
This canteen supply some snacks and drinks from supplier, also serve some snacks by herself such as lontong, tempe mendoan, tahu goreng, etc for many teachers and students of the course, also some mother who pick up her child there.
Mrs. Djoko rent a place beside the building of course with 7 million rupiahs for a year, and she get about 3,5 million rupiahs profit each  month. This business get it's capital return after 8 month.
She opened her canteen at 11 a.m until 7 p.m on Monday until Friday and assisted by her daughters, so there is no earnings for employee.

There is a few explanation which I can get about Small Enterprise. Thank you for attention :)

Made for : http://www.gunadarma.ac.id/

Sabtu, 21 Januari 2012

IPTEK dan Kemiskinan



Ilmu Pengetahuan

Ilmu atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkat metode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Dipandang dari sudut filsafat, ilmu terbentuk karena manusia berusaha berfikir lebih jauh mengenai pengetahuan yang dimilikinya. Ilmu pengetahuan adalah produk dari epistemologi.

Ilmu Alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi ke dalam hal yang bahani (material saja), atau ilmu psikologi hanya bisa meramalkan perilaku manusia jika lingkup pandangannya dibatasi ke dalam segi umum dari perilaku manusia yang konkret. Berkenaan dengan contoh ini, ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jarak matahari dan bumi, atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi cocok menjadi perawat.

Teknologi
Teknologi adalah metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis; ilmu pengetahuan terapan atau dapat pula diterjemahkan sebagai keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yg diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.

Dalam memasuki Era Industrialisasi, pencapaiannya sangat ditentukan oleh penguasaan teknologi karena teknologi adalah mesin penggerak pertumbuhan melalui industri.

Sebagian beranggapan teknologi adalah barang atau sesuatu yang baru. namun, teknologi itu telah berumur sangat panjang dan merupakan suatu gejala kontemporer. Setiap zaman memiliki teknologinya sendiri.

IPTEK dan Nilai
IPTEK tidak dapat dipisahkan dari nilai. Tanpa nilai, dapat terjadi penyalahgunaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka dari itu adalah kewajiban kita sebagai masyarakat yang memiliki moral dan etika untuk memanfaatkan IPTEK dengan sebaik-baiknya dengan mematuhi norma-norma dan aturan yang berlaku.

Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.

Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:

- Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.

- Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.

- Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.

source : www.wikipedia.org


Made for : www.gunadarma.ac.id



Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan

PENGERTIAN MASYARAKAT

Masyarakat dapat mempunyai arti yang luas dan sempit. Dalam arti luas masyarakat adalah keseluruhan hubungan-hubungan dalam hidup bersama dan tidak dibatasi oleh lingkungan, bangsa dan sebagainya. Atau dengan kata lain kebulatan dari semua perhubungan dalam hidup bermasyarakat. Dalam arti sempit masyarakat adalah sekelompok manusia yang dibatasi oleh aspek-aspek tertentu, misalnya territorial, bangsa, golongan dan sebagainya.

MASYARAKAT PEDESAAN

Masyarakat pedesaan selalu memiliki ciri-ciri atau dalam hidup bermasyarakat, yang biasanya tampak dalam perilaku keseharian mereka. Pada situasi dan kondisi tertentu, sebagian karakteristik dapat digeneralisasikan pada kehidupan masyarakat desa di Jawa. Namun demikian, dengan adanya perubahan sosial religius dan perkembangan era informasi dan teknologi, terkadang sebagian karakteristik tersebut sudah “tidak berlaku”. Masyarakat pedesaan juga ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga/anggota masyarakat yang amat kuat yang hakekatnya, bahwa seseorang merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dimanapun ia hidup dicintainya serta mempunyai perasaan bersedia untuk berkorban setiap waktu demi masyarakatnya atau anggota-anggota masyarakat, karena beranggapan sama-sama sebgai masyarakat yang saling mencintai saling menghormati, mempunyai hak tanggung jawab yang sama terhadap keselamatan dan kebahagiaan bersama di dalam masyarakat.

Adapun yang menjadi ciri masyarakat desa antara lain :

1. Didalam masyarakat pedesaan di antara warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas wilayahnya.
2. Sistem kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan
3. Sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian
4. Masyarakat tersebut homogen, deperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat istiadat, dan sebagainya

Didalam masyarakat pedesaan kita mengenal berbagai macam gejala, khususnya tentang perbedaan pendapat atau paham yang sebenarnya hal ini merupakan sebab-sebab bahwa di dalam masyarakat pedesaan penuh dengan ketegangan –ketegangan sosial. Gejala-gejala sosial yang sering diistilahkan dengan : 
-          konflik
-          kontraversi
-          kompetisi

MASYARAKAT PERKOTAAN

Masyarakat perkotaan sering disebut urban community . Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta cirri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Ada beberapa ciri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu :

1. Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan keagamaan di desa
2. Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain. Yang penting disini adalah manusia perorangan atau individu. Di kota – kota kehidupan keluarga sering sukar untuk disatukan , sebab perbedaan kepentingan paham politik , perbedaan agama dan sebagainya .
3. Jalan pikiran rasional yang pada umumnya dianut masyarakat perkotaan , menyebabkan bahwa interaksi – interaksi yang terjadi lebih didasarkan pada factor kepentingan daripada factor pribadi.
4. Pembagian kerja di antra warga-warga kota juga lebih tegas dan mempunyai batas-batas yang nyata
5. Kemungkinan-kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan juga lebih banyak diperoleh warga kota dari pada warga desa
6. Interaksi yang terjadi lebih banyak terjadi berdasarkan pada factor kepentingan daripaa factor pribadi
7. Pembagian waktu yang lebih teliti dan sangat penting, untuk dapat mengejar kebutuhan individu
8. Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota, sebab kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.

PERBEDAAN MASYARAKAT PEDESAAN DAN PERKOTAAN

1. Lingkungan Umum dan Orientasi Terhadap Alam, Masyarakat perdesaan berhubungan kuat dengan alam, karena lokasi geografisnyadi daerah desa. Penduduk yang tinggal di desa akan banyak ditentukan oleh kepercayaan dan hukum alam. Berbeda dengan penduduk yang tinggal di kota yang kehidupannya “bebas” dari realitas alam.
2. Pekerjaan atau Mata Pencaharian, Pada umumnya mata pencaharian di dearah perdesaan adalah bertani tapi tak sedikit juga yg bermata pencaharian berdagang, sebab beberapa daerah pertanian tidak lepas dari kegiatan usaha.
3. Ukuran Komunitas, Komunitas perdesaan biasanya lebih kecil dari komunitas perkotaan.
4. Kepadatan Penduduk, Penduduk desa kepadatannya lbih rendah bila dibandingkan dgn kepadatan penduduk kota,kepadatan penduduk suatu komunitas kenaikannya berhubungan dgn klasifikasi dari kota itu sendiri.
5. Homogenitas dan Heterogenitas, Homogenitas atau persamaan ciri-ciri sosial dan psikologis, bahasa, kepercayaan, adat-istiadat, dan perilaku nampak pada masyarakat perdesa bila dibandingkan dengan masyarakat perkotaan. Di kota sebaliknya penduduknya heterogen, terdiri dari orang-orang dgn macam-macam perilaku, dan juga bahasa, penduduk di kota lebih heterogen.
6. Diferensiasi Sosial, Keadaan heterogen dari penduduk kota berindikasi pentingnya derajat yg tinggi di dlm diferensiasi Sosial.
7. Pelapisan Sosial, Kelas sosial di dalam masyarakat sering nampak dalam bentuk “piramida terbalik” yaitu kelas-kelas yg tinggi berada pada posisi atas piramida, kelas menengah ada diantara kedua tingkat kelas ekstrem dari masyarakat.

Ada beberapa perbedaan pelapisan sosial yang tak resmi antara masyarakat desa dan kota :

- pada masyarakat kota aspek kehidupannya lebih banyak system pelapisannya dibandingkan dengan di desa.
- pada masyarakat desa kesenjangan antara kelas eksterm dalam piramida sosial tidak terlalu besar dan sebaliknya.
- masyarakat perdesaan cenderung pada kelas tengah.
- ketentuan kasta dan contoh perilaku.

Mobilitas Sosial.

Mobilitas berkaitan dgn perpindahan yg disebabkan oleh pendidikan kota yg heterogen, terkonsentrasinya kelembagaan-kelembagaan.
- banyak penduduk yg pindah kamar atau rumah
- waktu yg tersedia bagi penduduk kota untuk bepergian per satuan
- bepergian setiap hari di dalam atau di luar
- waktu luang di kota lbih sedikit dibandingkan di daerah perdesaan Interaksi Sosial.
- masyarakat pedesaan lebih sedikit jumlahnya
- dalam kontak sosial berbeda secara kuantitatif maupun secara kualitatif

Pengawasan Sosial.

Di kota pengawasan lebih bersifat formal, pribadi dan peraturan lbh menyangkut masalah pelanggaran

Pola Kepemimpinan

Menentukan kepemimpinan di daerah perdesaan cenderung banyak ditentukan oleh kualitas pribadi dari individu dibandingkan dengan kota

Standar Kehidupan

Di kota tersedia dan ada kesanggupan dalam menyediakan kebutuhan tersebut, di desa tidak demikian

Kesetiakawanan Sosial

Kesetiakawanan sosial pada masyarakat perdesaan dan perkotaan banyak ditentukan oleh masingmasing faktor yang berbeda

Nilai dan Sistem Nilai

Nilai dan system nilai di desa dengan di kota berbeda dan dapat diamati dalam kebiasaan, cara dan norma yang berlaku

Hubungan desa dan kota

Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komunitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan terdapat hubungan uang erat, bersifat ketergantungan, karena saling membutuhkan

Kota tergantung desa dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan-bahan pangan, desa juga merupakan tenaga kasar pada jenis-jenis pekerjaan tertentu di kota.

sebaliknya, kota menghasilkan barang-barang yg juga diperlukan oleh orang desa, kota juga menyediakan tenaga-tenaga yang melayani bidang-bidang jasa yg dibutuhkan oleh orang desa.

ASPEK POSITIF DAN NEGATIF

Perkembangan kota merupakan manifestasi dari pola kehidupan sosial , ekonomi , kebudayaan dan politik . Kesemuanya ini akan dicerminkan dalam komponen – komponen yang memebentuk struktur kota tersebut . Jumlah dan kualitas komponen suatu kota sangat ditentukan oleh tingkat perkembangan dan pertumbuhan kota tersebut.
Secara umum dapat dikenal bahwa suatu lingkungan perkotaan , seyogyanya mengandung 5 unsur yang meliputi :

-          Wisma : Untuk tempat berlindung terhadap alam sekelilingnya.

-          Karya : Untuk penyediaan lapangan kerja.

-          Marga : Untuk pengembangan jaringan jalan dan telekomunikasi.

-          Suka : Untuk fasilitas hiburan, rekreasi, kebudayaan, dan kesenian.

-          Penyempurnaan : Untuk fasilitas keagamaan, perkuburan, pendidikan, dan utilitas umum.

Untuk itu semua , maka fungsi dan tugas aparatur pemerintah kota harus ditingkatkan :

a)    Aparatur kota harus dapat menangani berbagai masalah yang timbul di kota . Untuk itu maka pengetahuan tentang administrasi kota dan perencanaan kota harus dimilikinya .

b)    Kelancaran dalam pelaksanaan pembangunan dan pengaturan tata kota harus dikerjakan dengan cepat dan tepat , agar tidak disusul dengan masalah lainnya ;

c)    Masalah keamanan kota harus dapat ditangani dengan baik sebab kalau tidak , maka kegelisahan penduduk akan menimbulkan masalah baru ;

d)    Dalam rangka pemekaran kota , harus ditingkatkan kerjasama yang baik antara para pemimpin di kota dengan para pemimpin di tingkat kabupaten tetapi juga dapat bermanfaat bagi wilayah kabupaten dan sekitarnya .

Oleh karena itu maka kebijaksanaan perencanaan dan mengembangkan kota harus dapat dilihat dalam kerangka pendekatan yang luas yaitu pendekatan regional . Rumusan pengembangan kota seperti itu tergambar dalam pendekatan penanganan masalah kota sebagai berikut :

1)    Menekan angka kelahiran
2)    Mengalihkan pusat pembangunan pabrik (industri) ke pinggiran kota
3)    Membendung urbanisasi
4)    Mendirikan kota satelit dimana pembukaan usaha relatif rendah
5)    Meningkatkan fungsi dan peranan kota – kota kecil atau desa – desa yang telah ada di sekitar kota besar
6)    Transmigrasi bagi warga yang miskin dan tidak mempunyai pekerjaan.

source : http://achmadsaugi.wordpress.com

Made for : http://www.gunadarma.ac.id/